Hampir semua pakar agama, ketika bicara tentang
iman, selalu mengacu kepada kesepakatan umum (konsensus) ulama, yang mengatakan
bahwa iman adalah percaya atau kepercayaan.
Acuan dari ‘kesepakatan’ itu sebenarnya adalah
kamus Bahasa Arab, yang di antaranya menyatakan bahwa iman adalah at-tashdîq
muthlaqan (kamus Al-Munjid), alias “pembenaran secara mutlak”, dalam arti
membenarkan sesuatu secara begitu saja, tanpa mengajukan pertanyaan. Itulah
yang kemudian dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi (1) kata kerja:
percaya atau mempercayai”, (2) kata
sifat:kepercayaan (keadaan atau kualitas percayanya seseorang terhadap
sesuatu), dan (3) kata benda: kepercayaan (objek-objek yang dipercayai).
Ketika Ilmu Tauhid mengajukan Rukun Iman, yang
jumlahnya ada enam, yang dimaksud adalah objek-objek kepercayaan, yang terdiri
dari (1)percaya kepada Allah, (2) percaya kepada malaikat, (3) percaya kepada
kitab-kitab, (4) percaya kepada rasul-rasul, (5) percaya kepada hari kiamat,
dan percaya kepada takdir). Rumusan Ilmu Tauhid itu sebenarnya diambil dari
sebuah hadis yang dikenal sebagai Hadis Jibril, yang pokok bahasannya adalah
(1) Islãm, (2) Îmãn, (3) Ihsãn, (4) Sã’ah,dan (5) Tanda-tanda Sã’ah, yang
kelimanya oleh Rasulullah disebut sebagai amru dînikum (perkara agama kalian),
yang tentunya satu sama lain tidak boleh dipisah-pisahkan. Namun dalam
kenyataan, butir-butir yang disebutkan secara berurut dan disimpulkan oleh
Rasulullah sebagai “perkara agama kalian” itu kini telah menjelma menjadi lima
cabang (disiplin) ‘ilmu’.
Bahasan yang pertama (Islãm) telah menjelma
menjadi Ilmu Fiqh, yang kedua (Îmãn) menjadi Ilmu Tauhid, yang ketiga (Ihsãn)
menjadi Ilmu Akhlaq dan Tasauf, yang keempat dan kelima (Sã’ah dan Tanda-tanda
Sã’ah) menjadi bahasan khusus tentang hari kehancuran dunia dengan segala
tanda-tandanya.
Dan, harap diingat bahwa kelima disiplin ilmu
tersebut masing-masing melahirkan variasi-variasi, yang jumlahnya mengikuti
bilangan mazhab. Dalam bidang fiqih, misalnya, mazhab-mazhabnya yang terkenal
antara lain Mazhab Syafi’i, Maliki, Hambali, dan lain-lain. Dalam bidang
tauhid, ada Jabariyah, Qadariyah, dan lain-lain. Dalam bidang tasauf, ada
Qadiriyah, Naqsabandiyah, dan lain-lain. Masing-masing aliran (mazhab) juga
mempunyai variasi dalam kepercayaan mereka tentang hari kiamat dan
tanda-tandanya. Ada yang percaya bahwa kiamat akan terjadi bila Nabi Isa sudah
turun dari persemayamannya di langit ke bumi, untuk memimpin umat Islam dan
mematahkan salib (mengalahkan Kristen). Ada pula yang percaya bahwa kiamat hanya
akan terjadi bila sudah muncul Imam Mahdi. Bagi Ahmadiyah, Imam Mahdi itu
adalah Mirza Ghulam Ahmad. Bagi Syi’ah, Imam Mahadi itu adalah imam yang selama
ini ditunggu (Al-Muntazhar) oleh mereka, yaitu salah satu imam dari kalangan
Syi’ah sendiri.
Itulah kiranya gambaran ringkas dari kredo (Ing.:
creed) atau sistem kepercayaan (iman) umat Islam sedunia, yang jelas telah
membuat umat Islam terkotak-kotak, terpecah-belah, kalahan, dan terpuruk.
Mengapa?
Di mana letak kelemahan atau kesalahan sistem
itu?
(sumber:studiofimanweeblycom)
No comments:
Post a Comment