Barangkali sebab paling nyata, mengapa kita tidak
mampu menjadi penyanjung dan pendukung kehidupan indah (hasanah) sebagaimana
digambarkan al-Qur’an dan telah diperagakan dengan paripurna oleh Rasulullah
saw., adalah akibat “keterbatasan” kita dalam memahami al-Qur’an itu sendiri.
Sehingga dalam realitas hidup sehari-hari al-Qur’an seakan-akan menjadi tidak
fungsional lagi (berdaya guna) sesuai fungsi diturunkannya sebagai pedoman
hidup bagi manusia (hudan li an-naas). Bahkan yang sering kita jumpai justru
sebaliknya, al-Qur’an telah menjadi “pedoman hidup” sesudah mati [di akhirat],
buktinya apabila ada orang Islam meninggal dunia pasti dibacakan [itu pun
melalui tape recorder] ayat-ayat al-Qur’an. Atau dibacakan ketika ada orang
menjelang mati (menghadapi sakarat al-maut).
Demikian pula [muskhaf] al-Qur’an telah menjadi
atau kita jadikan sebagai “benda suci” [keramat] yang harus disimpan di tempat
suci [pantas] dan dibaca (disentuh) oleh orang-orang suci [agamawan] pada waktu
dan peristiwa suci [khusus] pula. Itu pun seringkali hanya dibaca-baca
[bagaikan mantra] tanpa harus mengerti maknanya. Dengan demikian, membaca
al-Quran bukan menjadi bagian integral hidup, tetapi sekadar merupakan item
tambahan dari sejumlah kegiatan hidup setiap muslim. Jadi lebih bersifat
artifisial dan seremonial demi kepantasan dan kelaziman.
Maka tidak mustahil jika al-Qur’an pada akhirnya
hanya berfungsi semacam mantra yang bisa digunakan untuk mengaduk-aduk
[mendinginkan, menyejukkan atau menghangatkan] suasana dan perasaan kita,
itupun hanya bersifat temporer untuk sementara waktu saja. Oleh karena itulah
maka al-Qur’an sampai detik ini tidak pernah lagi mampu menjadi ruh pembangkit
budaya dalam rangka membangun sebuah peradaban yang gemilang dan sekaligus
menjadi cerminan kehidupan jannah di akhirat kelak.
Satu hal yang hampir-hampir hilang dari kesadaran
kita, adalah bahwa al-Qur’an merupakan petunjuk [dasar atau landasan teori]
dalam memandang dan menjalani realitas hidup di dunia ini hingga sampai kepada
kehidupan di akhirat kelak. Dan al-Qur’an yang diturunkan Allah melalui
rasul-Nya kurang lebih satu setengah milenium yang lalu, telah secara obyektif
[ilmiah] dibuktikan kebenarannya oleh Nabi Muhammad saw. beserta para
pendukungnya paling tidak dalam 23 tahun masa kenabian ditambah 40 tahun masa
khilafah rasyidah.
“Kesalahan” kita selama ini barangkali karena
ternyata kita telah mengkaji al-Qur’an tidak menurut [berdasar] keterangan atau
informasi [ilmu] yang diajukan oleh al-Qur’an itu sendiri, seperti halnya yang
telah dilakukan oleh Rasulullah. Biasanya yang kita lakukan adalah sekadar
mengaji [bukan meng-kaji] dengan orientasi mencari pahala dan menebus dosa.
Sehingga yang kita lakukan dalam menanggapi al-Qur’an adalah menurut sudut
pandang [metodologi] subyektifisme kita sendiri (Q.S. al-Jatsiyah: 23).
Padahal, berbeda halnya dengan pendekatan (approach) yang biasa kita lakukan
terhadap kitab-kitab ilmu [pengetahuan] yang lain, al-Qur’an disamping
merupakan informasi [ilmu] juga mengajukan teori ilmu-nya sendiri. Sehingga
siapa pun yang mau mengkaji dan memahaminya secara benar, harus menurut
[berdasar] sudut pandang al-Qur’an itu sendiri. Dengan kata lain, dalam kerja
fungsionalnya al-Qur’an yang kita kaji tersebut berkedudukan sebagai subyek
yang menentukan (walqur’anu imami) pandangan kita tatkala melakukan kajian atau
studi. Dan kedudukan kita yang mengkaji adalah kedudukan “antara” [diantara
subyek dan obyek], yakni merupakan wakil subyek (khalifah). Namun dalam
kedudukannya sebagai makhluk organis-biologis, kita adalah obyek studi [obyek
kajian], seperti halnya makhluk-makhluk lain yang ada di alam semesta.
Bila digambarkan secara sederhana, maka bentuk
(struktur) pandangan manusia sebagai wakil subyek adalah seperti sketsa berikut
ini (lihat gambar 1). maaf gambarnya tdk muncul
Sudut A adalah Allah, Tuhan Yang Maha Pencipta,
Pemilik, Penguasa, Penentu dan Pemasti alam semesta beserta segala ujud
kehidupan di dalamnya.
Sudut B adalah rancangan kepastian dari Allah
(qadar) yang telah diturunkan kepada manusia berupa Kitab-kitab Suci [termasuk
al-Qur’an], yang berbicara tentang semesta kenyataan alam dan kehidupan yang
tergantung kepada Allah.
Sudut C adalah alam semesta seisinya yang
merupakan bukti kenyataan (qadla) dari rancangan kepastian Allah.
Demikianlah bangun (struktur) pandangan al-Qur’an
dalam menatap persoalan hidup, baik organis, biologis maupun budaya yang
kesemuanya merupakan rancangan kepastian dari Allah yang bukti kenyataannya pun
tergantung kepada Allah. Dari sinilah maka dapat dipahami bila yang namanya
“takdir” itu memang tidak pernah dan tidak dapat diubah, dan al-Qur’an adalah
“suratan takdir” yang abadi, yang merupakan turunan [semacam fotokopi] dari
lauh al mahfudl. (Lihat Surat as-Syams; al-Buruj: 20-22; Yunus: 5 dll.)
Bangun segitiga sama sisi ABC sebagai bentuk
pandangan yang diajarkan Allah melalui al-Qur’an, sebenarnya memiliki tiga
dimensi persoalan yang berimpit di sudut B dalam posisi sama dan sebangun.
Pertama, sudut B-1 adalah al-Quran sebagai kalam
ilahi yang masih bersifat teoritis. Yaitu landasan teori yang membicarakan hal
ihwal kenyataan hidup serta apa yang seharusnya (das sollen) dilakukan untuk
meraih hidup yang hasanah.
Kedua, sudut B adalah posisi Rasulullah sebagai
bentuk contoh [pola, model] kehidupan indah (uswah hasanah). Dan ini merupakan
bukti kenyataan empiris (das sein) yang tidak bisa dihapus dari catatan
sejarah.
Ketiga, sudut B-2 sebagai kedudukan para mukmin
yang telah mempunyai wawasan sudut pandang al-Qur’an (sudut B-1) serta
mengikuti sunah rasul (sudut B) sebagai model atau pola [bentuk contoh] dalam
merealisasikan seluruh pandangan dan sikap hidupnya tersebut.
Di alam semesta, apa yang diungkapkan dalam Surat
Yunus ayat 5 bisa digambarkan sebagai berikut:
Maka bisa disimpulkan, bahwa kedudukan manusia
seumumnya adalah dalam posisi sudut D. Yakni sudut kegelapan atau bahasa
al-Qur’annya sudut Dzulumat. Untuk mendapatkan pencerahan di sudut Nur (sudut
B-2), kita harus melakukan tindakan-tindakan berdasarkan apa yang telah
diinformasikan oleh Allah melalui sudut B-1 seperti halnya yang telah
dicontohkan oleh Rasulullah melalui sudut B. Misalnya untuk menjawab persoalan,
“Bagaimana cara mengkaji al-Qur’an menurut al-Qur’an itu sendiri?” Maka
biarkanlah al-Qur’an tersebut memberikan instruksi, teknik dan prosedurnya, dan
kemudian kita tinggal mengikutinya. Jangan ketika al-Qur’an belum selesai
memberikan instruksinya kita keburu interupsi. Maka yang terjadi adalah seperti
yang selama ini kita lakukan, yakni seperti dongeng Sisipus yang mendorong batu
ke puncak bukit, begitu sampai di atas akan menggelinding ke bawah lagi, kita
dorong lagi, meluncur lagi … begitu seterusnya berulang-ulang. Ibarat dokter
yang bisa menyembuhkan pasiennya, Tuhan sebenarnya telah membuat jadwal “Jam
Bicara” yang sangat detail dalam Surat al-Muzzammil ayat 1 sampai 19. Maka yang
harus kita lakukan sebenarnya sederhana saja. Jadilah pasien yang baik,
janganlah jadi pasien yang sok tahu.
Selintas: Pasien Kurang Ajar (sumber:studiofimanweeblycom)