Ilmu sharaf (morfologi bahasa Arab)
adalah
sebuah cabang ilmu bahasa yang sering kali dianggap memusingkan. Karena itulah
ilmu ini kadang diplesetkan sebagai ilmu yang membuat orang sakit saraf (gila).
Tapi, siapa sangka bahwa dari ilmu sharaf kita bisa menggali sebuah filsafat
kehidupan? Secara garis besar, ilmu sharaf terbagi menjadi dua bentuk tashrîf,
yaitu tashrîf lughawi, dan tashrîf ishthilahi.
Tashrîf lughawi
adalah
perubahan atau variasi kata kerja mengikuti variasi 14dhamîr atau kata ganti
nama. Variasi ini mengingatkan kita pada fungsi dasar bahasa (lughah), yaitu
sebagai alat komunikasi.
Variasinya
dimulai dari kata ganti orang ketiga, atau pihak yang dibicarakan, yang terdiri
dari tiga variasi, yaitu (1) huwa (dia, lelaki), (2) huma (mereka berdua,
lelaki), dan (3) hum (mereka, lebih dari dua orang, lelaki). Kemudian, (4) hiya
(dia, wanita), (5)huma (mereka berdua, wanita), dan (6) hunna (mereka, lebih
dari dua orang, wanita). Berikutnya adalah kata ganti orang kedua, atau lawan
bicara, mulai dari (7) anta(kamu, lelaki), (8) antuma (kalian berdua, lelaki),
dan (9) antum (kalian, lebih dari dua orang, lelaki). Kemudian, (10) anti
(kamu, wanita), (11) antuma (kalian berdua, wanita), dan (12) antunna (kalian,
lebih dari dua orang, wanita). Terakhir adalah kata ganti orang pertama atau
pembicara, yaitu (13) ana (aku, lelaki/wanita), dan (14) nahnu (kami,
lelaki/wanita).
Filosofinya
Melalui
tashrîf lughawi ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa manusia berkembang
dari satu (mufrad) menjadi dua (mutsanna), dan seterusnya menjadi banyak (jam’un).
Selain itu, manusia juga diciptakan berpasangan, pria dan wanita. Selanjutnya,
dalam kehidupan sehari-hari, manusia secara dinamis dan bergiliran menempati
posisi-posisi tertentu.
Sungguh
menarik bahwa dalam ilmu sharaf dhamîr (kata ganti nama) itu disusun mulai dari orang ketiga,
yaitu objek atau bahan pembicaraan, bukan dari orang pertama atau pembicara.
Boleh jadi ini merupakan isyarat atau peringatan bahwa manusia pada dasarnya
adalah makhluk yang disorot atau dimonitor. Dengan kata lain, ini merupakan
peringatan bahwa manusia pada hakikatnya bukanlah makhluk yang bebas, bahkan
juga bukan makhluk yang mandiri! Dan, sudah pasti, manusia juga bukanlah sesuau
yang tiba-tiba muncul sendiri, tapi dia muncul karena ada yang memunculkan
(menciptakan).
Dalam
keadaan seperti di atas itu, manusia tentu membutuhkan bantuan dan bimbingan
untuk bisa hidup di bumi ini. Maka setelah orang ketiga, dhamîr berikutnya
adalah untuk orang kedua. Ini seolah merupakan isyarat bahwa Sang Pencipta
mengajak manusia untuk berkomunikasi, untuk menjadi lawan bicaraNya. Dan,
setelah itu, Sang Pencipta pun mengajarkan konsep hidup dan memberikan
bimbingan.
Satelah
penciptanya mengajarkan konsep hidup dan bimbingan, barulah manusia mampu
tampil sebagai ‘pembicara’, baik sebagai “aku” (ana), yang mewakili dirinya
sendiri maupun sebagai “kami/kita” (nahnu) yang mewakili pihak atau
kelompoknya! Itulah pelajaran yang tersirat dari dhamîr mutakallim wahdah (aku)
dan mutakallim ma’ahu ghairuhu (nahnu).
Berkembang
Manusia
yang tercipta dari nafsin wãhidah (satu diri atau satu rumusan? Surat An-Nisã’
ayat 1), lahir dari kandungan ibu tanpa membawa ilmu (An-Nahl ayat 79),
selanjutnya tumbuh berkembang menjadi masyarakat manusia yang terdiri dari pria
dan wanita.
Melalui
wahyuNya, Allah menempatkan manusia sebagai bahan pembicaraan (objek). Ia
menyorot dan memantau manusia. Tapi, Ia juga menempatkan manusia menjadi lawan
bicaraNya, membahas alam dan kehidupan, dan mempersilakan manusia untuk tampil
sebagai pembicara (subjek).
Sebagai
bahan pembicaraan, manusia disorot kebaikan dan keburukannya. Kekuatan dan
kelemahannya. Sebagai lawan bicara, manusia diangkat derajatnya melebihi hewan
dan seluruh makhlukNya. Bahkan, sebagai lawan bicara Allah, yang kemudian
karena itu ia bisa menerima ilmuNya, maka manusia dimunculkan menjadi makhluk
yang memiliki sifat-sifat yang mirip dengan Allah, yaitu menjadi makhluk yang
mampu berkreasi (mencipta).
Tapi,
setelah mampu berkreasi, manusia juga bisa kebablasan (melampaui batas).
Setelah
mampu mencipta, manusia bisa menjadi para aku dan kami yang sombong. Melupakan
jasa dan amanah Sang Mahapencipta.
Tashrîf ishthilãhi
Tashrîf
ishthilãhi, sesuai namanya, mencakup berbagai jenis kata yang disebut dengan
istilah-istilah (nama-nama) tertentu. Variasinya dimulai dari fi’lul-mãdhi,
fi’lul-mudhãri’, al-mashdar, ismul-fã’il, ismul-maf’ûl, fi’lul-amri,
fi’lun-nahyi, ismul-ãlah, ismul-makãn, ismuz-zamãn, fi’lul-mãdhil-majhûl,
fi’lul-mudhãri’il- majhûl.
Bila
tashrîf lughawi mengingatkan kita pada fungsi dasar bahasa (lughah) sebagai
alat komunikasi, tashrîf ishthilãhi mengingatkan bahwa dalam sebuah bahasa ada
istilah-istilah, yang mewakili bentuk pemikiran atau konsep budaya (hidup)
tertentu, yang uraiannya kira-kira seperti di bawah ini.
Pertama,
dalam fi’lul-mãdhi, terkandung pesan tentang adanya dimensi waktu yang tidak
pernah kita alami, bahkan merupakan sebuah misteri. Yaitu dimensi waktu lampau.
Selain itu, ada juga dimensi waktu lampau yang di dalamnya kita pernah
berkiprah, tapi kita tak bisa masuk lagi ke sana. Satu-satunya yang bisa kita
bawa dari masa lampau adalah kenangan, yang di dalamnya juga terkandung
sejumlah pelajaran.
Kedua,
dalam fi’lul-mudhãri’, terkandung pesan tentang dimensi waktu masa kini dan
masa nanti. Masa kini adalah masa yang kita hadapi. Bagaimana cara kita
menghadapi masa kini, hari ini? Sementara masa nanti, sama seperti masa lampau,
adalah misteri. Dalam arti, bisa jadi besok kita masih dalam keadaan segar
bugar, sehat wal-afiat, seperti sekarang. Boleh jadi kita menemukan hal sebaliknya.
Karena itu, bila tidak mengisi sebaik-baiknya masa sekarang, bisa jadi besok
kita merasakan penyesalan.
Selain
mencakup dimensi waktu sekarang dan yang akan datang, fi’lul-mudhãri’juga
mengingatkan tentang adanya hal-hal yang berlangsung terus-menerus (istimrãr),
dari dulu, sekarang, dan nanti. Dengan kata lain, fi’lul-mudhãri’ mengingatkan
tentang adanya sesuatu yang bisa bertahan melintasi waktu demi waktu. Apakah
itu gerangan? Dalam kaitan dengan manusia, sesuatu yang mampu bertahan
melintasi waktu demi waktu itu tak lain adalah falsafah hidup, alias pandangan
hidup kita sendiri.
Pandangan
hidup memang bukan sesuatu yang bisa lapuk termakan waktu. Bukan seuatu yang
bisa terperangkap dalam dimensi masa lampau. Ia bisa bertahan melintasi waktu
demi waktu, seiring dengan kesadaran kita sendiri untuk menjaganya.
Ketiga,
al-mashdar, yang antara lain berarti “kata kerja yang tidak terikat waktu”
(infinitive verb), mengingatkan bahwa kita – sebagai manusia – bisa jadi
terus-menerus melakukan suatu kegiatan yang sama. Dan, “kegiatan yang sama”
itu, bisa jadi bernilai baik, bisa jadi pula sebaliknya. Selain itu, al-mashdar
juga bisa berarti “objek yang tersembunyi” dari kata kerjanya (internal
object). Ini mengandung pesan agar kita mencermati keadaan (posisi) kita
sekarang. Jangan-jangan kita ini – secara tak sadar – telah, sedang, akan, dan
terus-menerus – menjadi objek dari sebuah fi’lun(pekerjaan, tindakan) yang
memposisikan kita sebagai korban! Siapa, atau apa, gerangan yang mengorbankan
(victimize) kita?
Keempat,
ismul-fã’il (kata pelaku, aktor), mengingatkan bahwa manusia – tanpa kecuali –
adalah “pelaku” dari banyak perbuatan, yang pasti tidak bebas nilai. Apa yang
sedang jadi aktor apakah kita sekarang? Sedang jadi tokoh protagonis atau
antagonis (jahat)?
Kelima,
ismul-maf’ûl, mengingatkan bahwa manusia ada kalanya menjadi objek. Tidak
selalu bahwa menjadi objek itu berarti jelek.
Penentu nilainya adalah siapakah, atau (konsep) apakah yang menempatkan
kita sebagai objek? Allahkah dengan ajaranNyakah? Atau seseorang yang tak lebih
baik dari kita? Atau sebuah benda? Atau hanya sebuah kegemaran (hobi) tak
berharga, seperti hobi mengadu ayam, main gaple, dan lain-lain hobi remeh
(bahkan buruk)?
Keenam,
dari fi’lul-amri dan fi’lun-nahyi, kita
bisa tarik pelajaran bahwa hukum dasar dari hidup ini adalah perintah dan
larangan. Tapi, hukum siapa yang kita patuhi? Hukum Allahkah? Atau hukum orang
lain? Atau hukum (ego) kita sendiri?
Ketujuh,
dari ismul-ãlah, ismul-makãn, ismuz-zamãn, kita dapat tarik pelajaran bahwa
hidup itu butuh sarana (ma’îsyah). Allah telah menyediakan segalanya; mulai
dari benda, tempat, dan waktu. Semua adalah sarana hidup. Tapi, kehidupan
apakah yang kita jalankan?
Beruntunglah
orang yang telah menemukan jawaban dari pertanyaan itu. Sebaliknya, celakalah
orang yang masih bingung menyebut jawaban. Sebab, sementara segala sarana itu
(benda, tempat, waktu) masih tersedia, kita sendiri mungkin sudaha tidak diberi
kesempatan lagi untuk melanjutkan hidup!
(sumber:studiofimanweeblycom)