Wednesday, 20 April 2016

A Study Of Îmãn

A  Study Of Îmãn (1): Pandangan Dunia tentang Îmãn
Secara umum orang mengatakan bahwa îmãn terletak di hati, sehingga dengan demikian îmãn adalah urusan hati; dan karena fungsi hati adalah untuk mempercayai, maka îmãn adalah soal kepercayaan.
Perhatikan lah doktrin berikut ini, yang dikemukakan para pakar agama Islãm kepada para mahasiswa perguruan tinggi umum:
Iman mempunyai 2 (dua) arti: percaya dan kepercayaan. Arti yang pertama menggambarkan tentang sikap mental atau jiwa dari seseorang yang mempercayai dan meyakini sesuatu, sedang arti yang kedua menunjuk kepada sesuatu yang dipercayai itu. Kepercayaan dalam Islam tersimpul dalam rukun Iman yang enam, yaitu: Percaya kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Hari Akhirat dan Qadha’-Qadar-Nya.


Iman ialah masalah ghaib yang tidak dapat dijangkau dengan akal dan pengalaman empiris. Ia hanya dapat diyakini dengan hati atau rasa dan bukan dengan rasio/otak. Namun demikian rasio atau akal dapat dijadikan sarana untuk mencapai iman dan memperteguh iman, misalnya dengan melalui pemikiran-pemikiran filosofis terhadap alam semesta termasuk manusia.

Sikap iman adalah sikap menerima tanpa reserve, tanpa tanya dan tanpa ragu, serta memiliki sikap penyerahan diri dan kerelaan berkorban sebagai konseksuensi dari imannya. Oleh sebab itu sikap iman adalah perlambang dari kebaikan yang sangat tinggi dan pertanda dari keutuhan pribadi manusia.[1]

Perhatikan betapa kontradiktifnya pernyataan-pernyataan di atas! Dikatakan bahwa iman tidak dapat dijangkau dengan akal dan peng-alaman empiris, tapi dikatakan pula bahwa rasio atau akal dapat dijadikan sarana untuk mencapai iman dan memperteguh iman. Bukankah penggunaan rasio atau akal sebagai sarana itu berarti melibatkan rasio dan akal dalam suatu peristiwa empiris?

Selain itu benarkah sikap iman adalah perlambang dari kebaikan yang sangat tinggi dan pertanda dari keutuhan pribadi manusia? Lalu bagaimana dengan orang-orang yang disebut di dalam Al-Qurãn “beriman dengan yang bãthil?” Apakah mereka juga melakukan kebaikan yang sangat tinggi dan mempunyai kepribadian yang utuh? Kita tidak berani mengatakan bahwa para pakar tersebut tak pernah membaca Al-Qurãn, tetapi rupanya mereka lupa atau entah mengapa.

DR. Quraish Shihab, ahli ilmu-ilmu Al-Qurãn lulusan Univer-sitas al-Azhar, Mesir (1982) menulis dalam harian Pelita tanggal 29 Januari 1992:

akal seringkali memunculkan aneka pertanyaan yang dapat menghadang kemantapan iman. Tentu ada yang puas dengan satu jawaban, tetapi bagaimana yang tidak puas? Apakah iman harus terus dipertahankan? Dengan kata lain, apakah yang diimani harus dipahami?
Kemudian ia mengutip dalil Soren Aabye Kierkegaard filsuf Denmark yang mengatakan: Anda harus percaya bukan karena tahu, tapi karena tidak tahu.
Kalau begitu, kita ajukan pertanyaan sebagai berikut:
1. Bila yang kita imani tidak perlu dipahami, beranikah kita mengatakan bahwa Al-Qurãn itu tidak perlu dipahami tapi cukup dipercaya saja?
2. Dalam kehidupan sehari-hari, bisakah kita mempraktikkan prinsip bahwa “kita percaya bukan karena tahu tapi karena tidak tahu?” Bisakah – misalnya – kita mempercayai orang yang baru kita temui di jalan, lalu menyuruhnya mengan-tarkan uang ke bank?

Bila pertanyaan pertama dijawab dengan “ya”, maka Al-Qurãn itu bukan petunjuk, bukan pedoman hidup, tapi cuma semacam jimat. Bila kenyataannya demikian, maka pantaslah orang-orang yang mengaku Mukmin/Muslim itu kebanyakan tidak mengenal ajaran agama mereka. Pantas lah bila pengakuan mereka tidak sama dengan kelakuan dan perlakuan mereka. Lalu apakah yang bisa diharapkan dari mereka? Akibat yang akan timbul adalah seperti yang dikatakan oleh nabi Muhammad: Islam hanya tinggal nama, Al-Qurãn hanya tinggal tulisannya, masjid-masjid ramai tapi sepi dari petunjuk.”

Bagaimana pula bila pertanyaan kedua dijawab dengan “ya”? memang bisa saja kita mempercayai sesuatu yang tidak kita ketahui. Misalnya, kita percaya bahwa bumi ini bulat dan berputar mengelilingi matahari. Tapi kepercayaan ini tidak timbul secara mendadak. Kita percaya karena pernah sekolah, mendengar keterangan darai guru, membaca buku-buku, melihat gambar-gambar, dan banyak lagi masukan yang akhirnya membentuk kepercayaan, membentuk opini. Alhasil, kepercayaan kita tentang bumi itu bisa dikatakan karena tahu juga, meskipun tidak tahu secara langsung.

Kita tidak bisa percaya tanpa syarat. Tidak bisa percaya tanpa minta pembuktian, baik pembuktian langsung atau melalui perantara. Misalnya, kita percasya tentang adanya Allah, karena melihat bukti-bukti berupa segala hasil ciptaan-Nya.

Quraish Shihab juga mengutip gambaran hakikat iman dari seorang pakar bernama al-Aqqad, yang mengatakan: “Hakikat iman berbeda dengan hakikat pengetahuan. Iman mempunyai kesamaan dengan rasa kagum … keduanya bersumber dari hati manusia. Dua orang yang setingkat pengetahuannya dapat berbeda tingkat kekagumannya terhadap satu obyek yang sama mereka ketahui, yang pertama mungkin mengaguminya dan yang lain menilainya bioasa-biasa saja. Seorang awam bolehjadi tingkat keimanannya melebihi tingkat keimanan seorang filsuf walaupun ia lebih dalam pengetahuannya.”

Bila demikian, mengapa iman tidak disamakan pula dengan kekafiran, yang juga bersumber dari hati manusia? (Perhatikan Surat Al-Baqarah ayat 6-10). Dua orang yang berpengetahuan setingkat dapat berbeda tingkat kekagumannya pada suatu obyek yang mereka ketahui, karena kagum adalah soal selera. Dua orang yang berpengetahuan sama belum tentu mempunyai pengetahuan yang sama tentang obyek tyersebut. Yang satu mungkin mem-punyai pengetahuan yang luas dan mendalam, yang lain mungkin hanya tahu sedikit saja. Malah bisa kita katakan bahwa rasa kagum, juga “rasa-rasa” yang lain, seringkali tidak mempunyai landasan pengetahuan obyektif.

Kenyataannya memanag demikianlah keadaan iman manusia pada umumnya: tanpa landasan pengetahuan obyektif! Padahal Rasulullah menegaskan bahwa orang yang lebih berpengetahuan justru lebih potensial untuk memiliki iman yang mantap. Dalam suatu Hadits, misalnya, dikatakan bahwa ada enam golongan manusia masuk neraka karena enam sebab; di antaranya adalah orang-orang dusun, yang masuk neraka karena kebodohan mereka. Mereka menjadi (tetap) bodoh tentu karena malas menuntut ilmu (Periksa Surat Az-Zumar ayat 9)

Bahkan (dalam Surat Ali Imran ayat 7) Allah menegaskan bahwa pernyataan “Kami beriman (terhadap Al-Qurãn)” hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang berilmu tinggi. Surat Al-Isrã’ ayat 36, juga menegaskan bahwa ilmu harus didahulukan dari sikap ikut-ikutan (percaya sebelum tahu). Ayat ini bahkan bertentangan dengan pernyataan Quraish Shihab dalam tulisannya tersebut bahwa “akal dapat mengetahui fenomena, dapat pula menciptakan pengetahuan, tetapi tidak mampu menciptakan iman.” Bila pernyataan Quraish Shihab ini benar, tentu kita tidak perlu memiliki akal untuk beriman. Tapi itu mustahil sekali. Karena, bukankah bila tanpa akal manusia sama dengan hewan?

Memang aneh, mengapa begitu banyak orang yang mengesampingkan peran akal ketika berbicara tentang iman? Padahal Al-Qurãn sendiri menyebutkan akal dengan berbagai bentuk mor-fologinya paling sedikit dalam 23 Surat. Mengapa kita seperti ingin menceraikan akal dengan iman, sedangkan sang Pencipta sendiri menjadikan keduanya berpasangan?
Anda khawatir kebebasan akal akan merusak iman, dan mengancam keberadaan agama? Kekhawatiran itu hanya boleh ditujukan kepada agama tidak yang sesuai dengan fitrah manusia. Akal yang bebas, bila yang dicarinya memang kebenaran, pasti dapat mene-rima kebenaran agama yang benar. Akal yang bebas tidak bisa ikut-ikutan untuk percaya asal percaya. Sebab kata Ibrahim al-Laqani dalam Nazham Jauharah at-Tauhid, “Orang yang bertauhid hanya ikut-ikutan, imannya tidak akan bebas dari keguncangan.” (Idz kullu man qallada fii tawhidi imanuhu lam yakhlu min tardid).

Al-Qurãn, sumber iman yang hakiki, adalah sebuah kitab yang berasal dari Pencipta manusia, yang paling tahu kemampuan akal manusia, sehingga ia adalah Kitab yang dapat dipahami oleh akal manusia. Karena Allah tidak membebani manusia denbgan beban yang tidak bisa dipikulnya (Al-Baqarah ayat 286). Karena Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia (Ar-Rum ayat 30). Tidak ada yang tidak masuk akal atau tidak bisa dipahami akal dalam agama ini, dalam kitab sucinya (An-Nisa’ ayat 82). Kalau selama ini kita berpandangan sebaliknya, mungkin karena kita tidak mengkajinya sesuai petunjuk-Nya, tapi mengikuti selerea masing-masing (Al-Jatsiyaah ayat 23).

Dengan doktrin yang mengatakan bahwa agama adalah urusan hati, dan bukan urusan akal, kita dipaksa untuk percaya saja pada pernyataan yang paling ganjil pun. Kita diharuskan membiarkan akal meronta seperti cacing kepanasan sampai ia mati. Padahal konon agama diturunkan untuk petunjuk, bukan untuk jadi teka-teki yang cuma bisa dijawab oleh Allah sendiri.

Karena akalnya tidak mendapat jawaban dari agama, ada sebagian orang menuduh agama sebagai candu atau penjara bagi akal manusia. Salahkah mereka? Barangkali di antara mereka ada beberapa gelintir orang yang jujur, ingin mendapatkan kebenaran, tapi para ahli agama menutupi kebenaran itu dengan mengatakan bahwa agama bukan urusan akal, bahwa kita harus percaya saja tanpa harus memahami. Al-Islam mahjubun bil muslimin, kata Muhammad Abduh. Kebenaran Islam digelapkan oleh orang Islam sendiri.

[1] Islam untuk Disiplin Ilmu Filsafat/Buku Daras Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum, hal. 195, Tim Penulis : Prof. DR. HM. Rasyidi, Drs. H. Harifuddin Cawidu, Prof. DR. Zakiah Daradjat, Prof. Drs. H.A. Sadali, Teribitan Proyek Pembinaan Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum, Jakarta, 1984.


A Study Of Îmãn (2): Kesenangan Berfantasi
Mohammad Hatta menulis dalam bukunya yang terkenal, Alam Pikiran Yunani,[1] bab Pendahuluan, hal. 1-3:
Tiap-tiap bangsa, betapa pun juga biadabnya, mempunyai dongeng dan takhyul. Ada yang terjadi daripada kisah perintang hari, keluar dari mulut orang yang suka bercerita. Ada yang terjadi daripada muslihat mempertakuti anak-anak, supaya ia jangan nakal. Ada pula yang karena keajaiban alam, yang menjadi pangkal heran dan takut. Dari itu orang menyangka alam ini penuh dengan dewa-dewa serta biduanda dan bidadarinya yang bermacam-macam namanya. Demikianlah lama-kelamaan timbul berbagai fantasi, cetakan pikiran, yang menjadi barang peradaban manusia bermula.

Fantasi itu tidak ada batasnya, sebab ia tidak bersangkutan dengan yang lahir. Keadaannya tidak dapat dibenarkan. Oleh karena itu, fantasi itu menjadi pangkal juga daripada perasaan yang indah-indah, pangkal dari pada seni, pangkal daripada “pengetahuan” yang ajaib-ajaib. Fantasi membawa orang yang meminangnya ke awang-awang, keluar daripada bumi dan alam tempat ia berdiri. Dengan fantasi itu ia dapat menyatukan ruhnya dengan alam sekitarnya. Ia merasa dirinya bagian daripada alam. Fantasi yang sampai ke sana disebut juga extase.[2]

Orang yang mengadakan fantasi tidak ingin mencari kebenaran buah fantasinya, karena kesenangan ruhnya adalah terletak dalam fantasi itu, ada yang ingin hendak mengetahui kebenarannya lebih jauh. Di antaranya ada yang tidak lekas percaya, ada yang bersifat kritis, suka membanding dan menguji. Demikianlah, dari fantasi itu timbul lama-kelamaan keinginan akan kebenaran.

Dongeng dan takhyul yang dipusakakan dari nenek moyang itu menimbulkan adat dan kebiasaan hidup, yang menjadi cermin jiwa bangsa yang memakainya. Pengetahuan pusaka itu bertambah lama bertambah banyak, ditambah dengan pengalaman tiap-tiap angkatan baru. Semuanya itu masuk ke dalam perbendaharaan peradaban bangsa, yang disebut kultur. Semuanya itu mnenjadi pimpinan bagi angkatan kemudian menenmpuh jalan penghidupan. Sebab itu “kata” dan “nasehat” orang tua-tua sangat diindahkan.

Dongeng dan takhyul serta adat-istiadat itu berpengaruh kemudian atas cara orang memeluk agamanya. Agama yang datang kemudian mendapati alam ini penuh dengan berbagai kepercayaan. Kepercayaan alam itu tak mudah membongkarnya dengan seketika saja. Ia bertahan. Itulah sebab, maka agama yang begitu murni dasarnya, dalam masyarakat banyak bercampur dengan barang pusaka hidup yang tersebut itu. Sebab itu tak salah orang mengatakan, bahwa cara orang memahamkan agamanya banyak terpengaruh oleh keadaan hidupnya.

Juga orang Grik dahulunya banyak mempunyai dongeng dan takhyul. Tetapi yang ajaib pada mereka itu ialah, bahwa angan-angan yang indah-indah itu menjadi dasar untuk mencari pengetahuan semata-mata untuk tahu saja, dengan tiada mengharapkan keuntungan daripada itu. Ingin tahu menjadi ujud sendirinya bagi mereka.
Berhadapan senantiasa dengan alam yang begitu luas, yang sangat bagus dan ajaib tampaknya pada malam hari, timbul di hatinya keinginan hendak mengetahui rahasia alam itu. Lalu timbul pertanyaan dalam hatinya, dari mana datangnya alam ini, betapa jadinya, bagaimana kemajuannya dan ke mana sampainya. Demikianlah beratus tahun alam besar itu menjadi soal dan pertanyaan, yang memikat perhatian ahli-ahli pikir Grik.

Tetapi kemudian di sebelah soal alam besar itu, yang berada di luar dirinya, terdapat olehnya soal alam kecil, yang berada di dalam dirinya. Alam ini tiada terlihat dengan mata, melainkan dapat dirasai saja. Lalu timbul pertanyaan dalam hatinya: apa ujud lahirku, apa kewajiban hidupku? Betapa seharusnya sikapku, dan di mana kudapat bahagia?
Begitulah jadinya soal alam dalam pikiran: Di sebelah soal kosmologi (kosmos= alam besar) timbul keinsafan dalam hati tentang kewajiban hidup, soal etik.

Di mana orang Grik dahulu kala semuanya itu satu soal saja, satu pokoknya: satu kebenaran. Sebab itu ilmunya cuma satu saja, yang kemudian diberi nama “philosophia” Philosophia artinya “cinta akan pengetahuan”.

Uraian ini dibuat Mohammad Hatta untuk menggambarkan asal-usul timbulnya ilmu filsafat, yang dianggap sebagai induk segala ilmu, yang katanya bermula dari khayal atau fantasi. Khayal atau fantasi ini kemudian menjadi adat-istiadat, yang selanjutnya masuk ke dalam peradaban atau kultur suatu bangsa, dan berpengaruh terhadap cara orang memeluk agamanya. Agama yang datang belakangan (?) harus berhadapan dengan berbagai kepercayaan yang begitu kuat bertahan. Cuma tidak dikatakan oleh Hatta bahwa agama bukan hanya harus menghadapi berbagai kepercayaan tapi juga berbagai filasafat. Bahkan dengan meluasnya pengaruh filsafat Yunani (yang merupakan sumber kebudayaan Barat) di kalangan umat Islam, lahirlah berbagai aliran ilmu Kalam yang meramaikan kancah perselisihan umat.

Filsafat dikatakan bertugas untuk seek out hidden meanings of thing (mencari makna-makna yang tersembunyi di balik benda nyata). Dari filsafat ilmu pengetahuan alam sebagai ilmu yang berdiri sendiri, pada abad tujuhbelas, seperti kata Bierens de Haar, seabad kemudian lahir ilmu ekonomi, dan pada awal abad sembilanbelas lahir ilmu sosial.[3]

Filsafat sendiri akhirnya melahirkan berbagai cabang, seperti dipaparkan Hunt dan Pudjawijatna:
Teka-teki tentang asal mula serta perkembangan alam semesta dipelajari oleh kosmogoni.
Persoalan tentang apakah alam semesta ini terdiri dari satu, dua atau banyak kenyataan (reality) dipelajari oleh ontologi. Jika terdapat anggapan bahwa alam semesta ini terdiri dari satu kenyataan terdapatlah aliran monisme. Yang menganggap dua kenyataan ialah dualisme, sedangkan pluralisme menganggap bahwa alam semesta ini terdiri dari berbagai kenyataan.

Dualisme yang menganggap bahwa ide lah yang primer, sedangkan materi sekunder adalah idealisme. Sebaliknya apabila materi dianggap melahirkan ide, pandangan tersebut adalah pandagan penganut materialisme.
Persoalan kemungkinan tentang ilmu pengetahuan manusia dipelajarui oleh epistemologi, persoalan tentang baik atau jahat dipelajari oleh ethica, persoalan indah dan buruk dipelajari oleh aestethica, dan persoalan tentang kebenaran dan kekeliruan dipelajari oleh logika (mantik).
Persoalan-persoalan yang menyangkut alam ghaib, misalnya persoalan tentang hakekat Tuhan, hari akhirat, kadar dan lain-lain dipelajari oleh metafisika.

Di Indonesia metafisika biasa diterjemahkan dengan kebatinan.[4]
Demikianlah dengan pola pikir yang menganggap bahwa filsafat merupakan induk segala ilmu, dapat kita lihat bahwa persoalan berkenaan dengan alam ghaib (Tuhan, akhirat, kadar dsb.) dimasukkan ke dalam cabang filsafat yang bernama metafisika, yang berarti non-lahiriah atau bukan benda, yang di Indonesia berarti kebatinan!
Paham bahwa filsafat merupakan induk segala ilmu, kendati berasal dari Barat, kini telah menjadi paham manusia terpelajar sedunia. Maka, seperti kata Mohammad Hatta, agama Islam yang datang belakangan, harus berhadapan dengan kenyataan ini, dan akhirnya, mau tak mau, harus pula masuk kotak metafisika alias kebatinan.

Kebatinan dalam Ensiklopedi Umum, terbitan Kanisius didefinisikan sebagai: Suatu bentuk atau alam kepercayaan.
Dalam paham bangsa Indonesia umumnya kepercayaan atau keyakinan adalah identik dengan agama, sehingga agama pun dapat didefinisikan sebagai salah satu bentuk atau alam kepercayaan. Dengan demikian, jelaslah bahwa agama adalah bagian dari kebatinan (metafisika).

Jadi, tidak perlu heran bila berbicara tentangt iman sebagai bagian pokok dari agama, orang lantas sepakat mengatakan bahwa iman adalah kepercayaan. Bukan hanya bangsa Indonesia yang mengatakan begitu, tapi juga semua bangsa di dunia. Dalam bahasa Inggris misalnya, kepercayaan disebut belief, yang artinya adalah: menerima sesuatu sebagai kebenaran, meskipun kita tidak dapat memastikan bahwa itu benar. Sedangkan iman dalam bahasa Inggris adalah faith, yang berarti: kepercayaan teguh akan sesuatu yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya.[5] Dalam Kamus al-Munjid (yang bisa dikatakan mewakili pandangan Arab, iman dikatakan sebagai at-tashdiqu muthlaqan, “kepercayaan mutlak”, atau “pembenaran semata”. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa pandangan Arab tentang iman sama dengan pandangan manusia-manusia lain di dunia secara umum.

Yang menjadi pertanyaan kita sekarang adalah:
1. Bagaimanakah Allah melalui Rasul-Nya menjelaskan tentang iman?
2. Benarkah iman termasuk dalam kelompok metafisika?
[1] Terbitan universitas indonesia (UI – Press), 1986.
[2] Extase (Latin, ecstasis) : pesona; in extase, terpesona, sehingga lupa segala-galanya.
[3] Ilmu Flsafat Agama, Achmad Roestandi, SH, Yayasan lembaga Pengarang & Penerbit/ Yayasan Universitas Islam Nusantara, bandung, 1970 , hal. 32; 34.
[4] Ilmu Filsafat Agama, Achmad Roestandi, SH., hal 35-37.
[5] Drs. Peter salim, Synonym Studies, Modern english Press, jakarta, 1982.


A Study Of Îmãn (3): Arti Kata Îmãn
Ditinjau dari ilmu sharaf (morfologi/teori bentuk kata), îmãn (إيمان) adalah masdhar dari kata kerja bentuk lampau (fi’il mãdhi) ãmana (آمن), yaitu fi’il mãdhi yang berkedudukan muta’addi (berobyek).
Kata-kata dalam bahsa Arab pada umumnya terdiri dari tiga huruf. Bila lebih dari tiga huruf, berarti ada huruf(-huruf) tambahan. Kata ãmana (آمن → أامن) terdiri dari empat huruf. Berarti ada tambahan satu huruf pada kata asalnya, amina (pola fa’ila), dan bisa amuna (pola fa’ula). Kata-kata tersebut berarti: aman, tenteram, selamat, jujur, lurus, dsb. Kata-kata ini dalam bahasa Indonesia tergolong kata sifat atau kata keadaan. Tapi dalam bahasa Arab semua merupakan kata kerja lampau yang tidak mempunyai obyek, yaitu tidak ada sasaran atau korban kerjanya. Kata kerja seperti ini oleh orang Indonesia disebut fi’il lazim (Arab: fi’lul-lãzim, Ing.: intransitive verb).

Fi’il lazim bisa diubah menjadi fi’il muta’addi (transitive verb) dengan cara menggunakan pola lain. Misalnya dari pola fa’ala (فعل) dipindahkan ke pola af’ala (افْعل).
Dengan menggunakan pola af’ala, maka kata amana, amina, dan amuna menjadi ãmana (آمن → أامن)
Berganti pola berganti makna. Kata kerja yang semula pasif bisa menjadi aktif, misalnya, kata lari, misa menjadi melarikan (membawa lari sesuatu. Atau membuat sesuatu berlari).
Demikian juga kata amana/amina/amuna yang berarti aman, tenteram, selamat, jujur, lurus, dsb. , setelah dipindah ke pola af’ala, menjadi ãmana, artinya berubah menjadi: mengamankan, menenteramkan, menyelamatkan, meluruskan, dsb.

Îmãn (إيْمان) – tepatnya îmãn(an) (إيمانا), adalah masdhar dari kata kerja ãmana.
Menurut Hans Wehr, dalam tatabahasa, masdhar (مصدر) adalah (1) infinitive (kata kerja asli, yang tidak terikat oleh dimensi waktu) atau verbal noun (kata benda yang berkaitan dengan kata kerja), dan (2) absolut or internal object (objek mutlak – Arab: maf’ûl muthlaq; atau sasaran kerja tersebunyi/tersirat).
Teori bahasa itu layak diperhatikan sebagai salah satu alat atau landasan untuk memahami arti kata îmãn.

Alhasil, sebagai masdhar dari ãmana, îmãn(an), bisa berarti: tindakan mengamankan/menenteramkan/menyelamatkan/meluruskan, dsb.
Kata îmãn(an) ini dalam ilmu sharaf selain berkedudukan sebagai masdhar, juga bisa menjadi isim nakirah , kata benda umum (indefinite), yaitu kata yang biasa didaftar dalam entry atau item kamus sebagai kata dasar. Tapi setelah diberi tambahan huruf alif dan lam, sehingga menjadi al-îmãn(u) (الإيمان), maka ia berubah menjadi isim ma’rifah (definite), yaitu kata benda khusus; bahkan selanjutnya bisa menjadi sebuah istilah.

Al-îmãn(u) jelas merupakan sebuah istilah, yaitu istilah yang dikenal kebanyakan orang sebagai berasal dari agama Islam.
Siapakah yang berhak memberikan makna khusus pada suatu kata? Siapakah yang berhak membuat istilah? Jawabnya adalah: siapa pun berhak, asal mempunyai otoritas (wewenang) atau mampu memberikan pertanggungjawaban yang layak, bukan asal-asalan.
Ada dua pihak yang mempunyai kemungkjinan menjadi penentu makna istilah îmãn, yaitu bangsa Arab dan Allah.
Orang Arab memperkenalkan kata îmãn kepada kita dalam rangka da’wah Islam. Islam adalah agama Allah, bukan agama Arab. Karena itu jelaslah bahwa yang mempunyai otoritas untuk memberikan makna khusus pada kata îmãn adalah Allah, bukan orang Arab.
Sehubungan dengan hal itu, marilah kita periksa Surat al-Hujarat ayat 14-15:
Orang-orang Arab itu mengatakan,“kami beriman.” Tegaskan kepada mereka (hai Muhammad), “Kalian belum beriman. Sebaiknya kalian katakan saja, ‘Kami menyerah’ . Karena iman itu belum masuk ke dalam jiwa kalian. Tapi bila kalian hendak mematuhi Allah dengan meneladani rasaul-Nya, (silakan saja), karena Dia (Allah) tidak akan mengurangi nilai amal kalian sedikit pun. Sungguh Allah itu Ghafûr dan Rahîm.[1]

Para Mukmin sejati adalah mereka yang mengimani (ajaran) Allah dengan meneladani rasuk-Nya sampai tidak tersisa sedikit pun keraguan untuk memperjuangkan iman mereka dengan mempertaruhkan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang tulus membuktikan keimanan.

Dalam ayat ini terdapat kata lam yartabû , yang artinya mereka tidak mempunyai keraguan. Orang yang tidak mempunyai keraguan berarti orang yang yakin. Tapi ingat, jangan samakan yakin dengan percaya, karena yakin (yaqîn) menurut kamus berarti tahu pasti[2] jelasnya, hanya orang yang tahu pasti akan sesuatu yang berhak mengatakan dirinya mempunyai keyakinan. Dalam kaitan dengan ayat di atas, jelas digambarkan bahwa si Mu’min adalah orang yang tahu pasti tentang kebenaran ajaran Allah, sehingga tidak ragu-ragu untuk memperjuangkannya dengan mempertaruhkan harta dan jiwa.

Rasulullah saw. menegaskan dengan sabdanya:
ليس الإمان بالتمنّى و لكن الإمان ما وُقِر فى القلب و إقرار بالسان و عمل بالأركان
Iman itu bukanlah angan-angan tapi sesuatu yang ditetapkan dalam kalbu, (yang lahir menjadi) ikrar lisan, serta didukung dengan tindakan. (Hadits Riwayat Ibnu Najjar).
Dalam Hadits ini terdapat kata wuqira, bentuk pasif dari waqara, yang artinya antara lain, menempatkan di tempat yang aman, memastikan, mengajukan fakta yang kuat, dsb. Menurut Hans Wehr, salah satu arti waqara adalah to be settled, certain, an established fact. (meyakini fakta yang tak dapat dipungkiri). Dengan kata lain, waqara adalah pengakuan terhadap sesuatu yang axiomatic alias obviously true (tidak terbantah kebenarannya).

Jadi menurut Hadits ini îmãn – tepatnya al-îmãn – adalah sesuatu yang ditempatkan di tempat yang aman, tidak akan terusik oleh siapa pun, yaitu di dalam kalbu. Alasan penempatannya adalah karena ‘sesuatu tersebut mempunyai nilai yang pasti, dan didukung kebenaran nilainya oleh fakta yang kuat. Selanjutnya, ‘sesuatu’ yang tersimpan dalam kalbu itu secara otomatis akan lahir dalam berbagai bentuk ucapan dan tindakan atau perilaku orang yang bersangkutan.∆
[1] Ghafûr adalah kata sifat; berasal dari kata kerja ghafara yang berarti (1) menutup dan atau (2) memperbaiki. Begitu juga rahîm, kata sifat, yang berarti mengasihi atau menyayangi. Tapi sebagian mufassir mengatakan bahwa rahîm adalah kasih-sayang yang diberikan Allah hanya kepada orang beriman.
[2] Periksa Kamus Al-Munawwir, Mu’jamul-lughatil-‘Arabiyyatil-Mu’asahirah (A Dictionary of Modern Written Arabic), kamus al-Munjid, dll.


A Study Of Îmãn (4): Pengertian kalbu
Samakah pengertian kalbu (qalbun, al-qalbu) dengan “hati” dalam bahasa Indonesia? Bila bicara tentang hati, orang Indonesia pada umumnya menyebutkan sesuatu yang menjadi tempat bersarangnya berbagai perasaan, dan mereka biasa mengisyaratkan tangan ke dada, seolah-olah hati (perasaan) itu terletak di dalam dada. Sedangkan bila berbicara tentang akal atau pikiran, umumnya orang menunjuk kepala.
Menurut ilmu urai tubuh (anatomi) kita berpikir dan merasa dengan otak. Dalam kamus Psychology, Dali Gulo menggambarkan otak sebagai “bagian dari sistem saraf yang terbungkus dalam tengkorak kepala dan merupakan pusat motivasi, pemikiran, pengolahan dan penyampaian apa-apa yang diperoleh dari indera.”

Floyd L. Ruch dalam Psychology and Life memberikan gambaran tentang otak demikian:
In the last analysis the superiority of man over the lower forms derives from his superior ability to think and plan, utilizing objects both present and absent in overcoming his problems. This ability is the result of a larger, more complex brain, which operates with intricate division of labor and with more control over the reswt of nervous system than we find in any of the lower forms. Perception, thought, consciousness itself depend on the brain for their occurrence. Clearly, then, if we are to … study all the behaviour, motives, and emotions growing out of the interaction between man and his ewnvironment, our picture must include a working understanding of the brain.

(Penelitian terakhir membuktikan bahwa keunggulan manusia atas makhluk-makhluk lain yang lebih rendah terletak pada kemampuannya yang istimewa untuk berpikir dan membuat rencana, serta memanfaatkan barang baik yang ada maupun yang tidak ada untuk menyelesaikan berbagai masalahnya. Kemampuan ini adalah berkat dari otak manusia yang lebih besar dan lebih rumit, yang beroperasi dengan pembagian kerja yang ruwet dan lebih mampu mengendalikan sistem saraf dibandingkan dengan yang kita temukan pada makhluk-makhluk lain yang lebih rendah. Persepsi (pendapat), pemikiran, dan kesadaran itu sendiri keberadaannya tergantung pada otak. Jadi, jelaslah, bila kita hendak mempelajari segala perilaku, dorongan-dorongan, dan berbagai perasaan yang tumbuh sebagai akibat pergaulan manusia dengan lingkungannya, gambaran kita harus disertai pemahaman yang baik tentang otak).

Setelah memerhatikan gambaran tentang otak, mari kita periksa gambaran tentang kalbu dalam al-Qur’an, misalnya dalam Surat al-A’raaf 7:179:
“Bagi jahanam sungguh telah Kami sediakan banyak jin dan manusia, yang telah kami bekali qalbu tapi tidak mereka gunakan untuk memahami (ajaran Kami), yang telah kami bekali mata tapi tidak digunakan untuk melihat (bukti kebenaran ajaranb Kami), yang telah Kami bekali telinga tapi tidak digunakan untuk menyimak (penjelasan tentang ajaran Kami). Mereka itu ibarat hewan piaraan, bahkan lebih tolol lagi. Mereka adalah para pengabai (kesempatan untuk meraih keberuntungan, dengan melaksanakan ajaran Allah).”
Sedangkan dalam Surat an-Nahl 16:78 Allah menegaskan pula:
“ … Allah mengeluarkan kalian dari kandungan ibu kalian dalam keadaan tidak tahu apa-apa tapi dibekalinya kalian dengan alat pendengaran, alat penglihatanj, dan fuad, supaya kalian gunakan dengan sebaik-baiknya (bersyukur).”

Kedua ayat di atas menjelaskan bahwa kalbu (qalbun, jamaknya qulubun) sama dengan fuad (fuadun, jamaknya af’idah) yang fungsinya berkaitan dengan fungsi indera, terutama indera penglihatan dan pendengaran, yang keduanya sangat berperan dalam kehidupan manuysia yang mempunyhai otak lebih besar dari otrak hewan. Kamus pun menyamakan kalbu dengan akal (al-aqlu), fuuad, dan batin, atau quwwatul-idraak (daya tanggap), atau al-fahmu (faham, pengertian). Hans Wehr dan J. Milton Cowan dalam A Dictionary of Modern Written Arabic, mengartikan kalbu sebagai mind (pikiran), soul (jiwa), dan spirit (ruh). Jadi jelas lah bahwa kalbu tidak sama dengan hati dalam arti perasaan saja. Terjemahan yang tepat untuk kalbu dalam bahasa Indonesia adalah jiwa, yang di dalamnya terdapat pikiran dan perasaan, dan otak secara fisik mungkin merupakan ‘sarang’-nya. Sedangkan secara ruhani, otak dan jiwa adalah identik (sama); dalam arti bahwa pembicaraan tentang jiwa manusia selalu berkaitan dengan sesuatu yang mengisi otak ragawi.
Al-qalbu (jiwa, otak) yang ‘berkantor pusat’ di kepala itulah yang mencari input (masukan) melalui dua indera yang paling dominan, yang berkali-kali disebut dalam Qur’an, yaitu telinga dan mata.

A Study Of Îmãn (5): Otak Seperti Komputer
Penemuan komputer memudahkan kita memahami kerja otak. Dengan kata lain, cara kerja komputer sebenarnya menggambaran secara 'sederhana' namun nyata bagaimana otak manusia bekerja.
Ibarat komputer, otak membutuhkan dua jenis 'makanan' untuk bisa hidup. Makanan komputer yang pertama adalah listrik, yang kedua adalah sistem operasi. Dengan hanya diberi aliran tenaga listrik, komputer hidup. Tapi belum bisa bekerja. Karena baru bisa menarik input dan menghasilkan output yanag amat sederhana. Ia baru bisa bekerja setelah diberi sistem operasi. Sistem operasi (operating system) ini lah yang merupakan 'program yang mengatur fungsi internal komputer dan mengendalikan operasi komputer."[1] Setelah diberi sistem operasi, barulah komputer bisa menerima program-rogram yang lain, yang membuatnya bisa digunakan untuk menulis, berhitung, menggambar, terhubung ke internet, dan lain-lain. Sebelum diberi sistem operasi, komputer ibarat manusia yang baru lahir, yang bisa melihat dan mendengar, namun belum bisa memahami segala sesuatu yang dilihat dan didengarnya.

Sistem operasi komputer adalah program dasar yang berfungsi sebagai 'penerjemah' program-program yang lain. Pada otak manusia program dasar ini adalah bahasa. Bahasa lah yang membuat otak manusia bisa berpikir, mampu menyerap ilmu, apa pun jenisnya, sehingga manusia bisa bergaul dengan lingkungannya.
Inti iman adalah sebuah konsep, yang bila dikiaskan dengan komputer konsep ini sama dengan sebuah program.
Sebagai konsep, iman dimasukkan ke dalam otak (diajarkan) oleh Allah melalui malaikat dan rasul, lalu dibukukan menjadi sebuah kitab, yang selanjutnya diserap (dipahami) manusia melalui proses belajar.

Sebuah hadits riwayat Ibnu Majah[2] mengatakan: al-îmãn 'aqdun bil-qalbi wa iqrãrun bil-lisãni wa 'amalun bil-arkãni. Hadis ini, dan beberapa hadis dengan redaksi yang hampir sama, menyatakan bahwa iman mempunyai tiga bagian (aspek). Tepatnya, hadis ini menegaskan 'kerja' tiga bagian dari diri manusia, yaitu al-qalbu (jiwa; otak), al-lisãn (lidah), dan al-arkãn (anggota badan) dalam melengkapi eksistensi (perwujudan) iman dalam diri seseorang.

Teasnya, 'aqdun bil-qalbi adalah ungkapan untuk menggambarkan proses kerja al-qalbu (jiwa; otak) dalam mengikat, merajut, melekatkan (konsep) iman.[3] Sedangkan iqrãrun bil-lisãni adalah ungkapan untuk menggambarkan proses kerja lidah dalam mengakui, memaklumkan, memberitakan, dan sebagainya; dan 'amalun bil-arkãni adalah proses kerja anggota badan untuk mewujudkan iman ke dalam kenyataan perilaku dan karya.
Bila dalam surat Al-Hujarat ayat 14 dikatakan bawa iman adalah sesuatu yang 'masuk' (yadkhulu) ke dalam kalbu, dalam hadis di atas ditegaskan bahwa masuknya iman itu tidak terjadi dengan sendirinya tapi melalui proses aqdun bil-qalbi. Tegasnya, iman itu masuk sebagai hasil usaha manusia. Bila menggunakan istilah komputer, iman itu masuk melalui proses peng-install-an (instalasi).

Proses instalasi dengan kata lain adalah proses melakukan input, yang dalam istilah komputer berarti pemasukan setrum, bahan, dan data ke dalam sistem, supaya sistem (komputer) bisa menghasilkan output (keluaran; produk).
Dalam konteks hadis di atas, tersirat dengan jelas bahwa al-qalbu adalah alat input; sedangkan al-lisãn dan al-arkãn adalah alat output.

[1] Byran Pfaffenberger, Ph.D., Kamus Komputer Andalan QUE, Dinastindo, 1994.[2] Diperkuat dengan hadis-hadis Bukhari-Muslim, Ibnu Najjar, dan lain-lain.
[3] Bentuk kata kerja dari 'aqdun adalah 'aqada, yang antara lain berarti mengikat; merajut; melekatkan.

A Study Of Îmãn (6): Berpangkal Etika
Iman sebagai gaya Hidup
(Pembahasan iman sebagai gaya hidup sudah ditulis tersendiri dalam blog ini. Di sini hanya disinggung sedikit untuk sekadar mengingatkan bahwa iman tidak terpisahkan dari gaya hidup).
Bagian permukaan dari iman (segi kebahasaan dan perilaku) melahirkan gaya hidup, yang dalam bahasa Latin disebut ethos.

Ethos dibentuk oleh etika, yang dalam bahasa Inggris disebut ethics dan dalam bahasa Arab disebut qawaa'idul-akhlaaq. Maka bagi yang memahami bahasa Arab, akan semakin jelas bahwa gaya hidup adalah suatu "hasil bentukan", bukan sesuatu yang built-in (terpasang) sejak "dari sononya", bukan "bakat semula jadi" ; karena dalam bahasa Arab gaya hidup itu disebut akhlãq, suatu istilah yang berpangkal dari kata khalaqa (menciptakan, menjadikan, membentuk, mengadakan, dsb.). Hal itu menjadi semakin jelas bila dihubungkan dengan kata-kata 'Aisyah yang menegaskan bahwa akhlãq Rasulullah adalah Al-Qurãn (terbentuk oleh Al-Qurãn).

Berpangkal etika
Etika adalah "Suatu sistem peraturan tentang apa yang benar atau salah secara moral, khususnya peraturan yang diikuti kelompok penganut agama atau orang-orang yang tergabung dalam kelompok profesi."[1] Dalam kaitan dengan penganut agama, etika Kristen tertentu berbeda dengan etika Islam. Dalam kaitan dengan kelompok profesi, kita mengenal apa yang disebut "kode etik" (code of ethics), yaitu etika yang mengikat setiap kelompok profesi. Dalam dunia kedokteran ada "kode etik kedokteran", dalam dunia kewartawanan ada "kode etik jurnalistik" , dan seterusnya.

Etika merupakan cabang dari ilmu filsafat, yang konon lahir karena manusia merenungkan sifat dan kelakuannya, sehingga akhirnya berkembang lah pengertian tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Tapi karena pemikiran manusia begitu beragam, maka lahirlah berbagai aliran etika, namun intinya terbagi menjadi dua aliran:
1. Aliran Intuisionisme yang mempercayai adanya bisikan hati atau ilham. Bagi mereka, pandangan tentang baik dan buruk itu merupakan bawaan (bakat), yang terpasang dalam perasaan manusia.
2. Aliran Empirisme, yang mengajarkan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman.
Kedua aliran itu kemudian ribut soal mana yang disebut baik mutlak dan mana yang nisbi. Di antara mereka ada yang menjadikan agama sebagai ukuran, ada yang mengajarkan bahwa yang paling banyaklah yang paling baik, ada pula yang meyakini bahwa individu adalah penentu kebenaran.
Mana yang harus dipilih? Kita bisa mengatakan bahwa kebenaran individu itu nisbi (relatif) dan karena individu itu kecil bila dibandingkan dengan masyarakat, maka kebenaran individu itu dapat dikalahkan oleh kebenaran masyarakat. Kemudian, bila kita gunakan agama sebagai tolok ukur, bisa jadi satu individu dikatakan benar karena ia mematuhi agama. Tapi bukankah jumlah agama juga tidak hanya satu? Selain itu, dalam satu agama juga terdapat aliran-aliran, yang memusingkan kita untuk menunjuk mana yang benar.
Al-Qurãn mengajukan satu rumusan bahwa konsep yang benar itu berasal dari Allah. Bila manusia tidak menyetujui konsep Allah, silakan membuat konsep sendiri. Tapi menurut Al-Qurãn pula, manusia tak akan mampu membuat konsep yang setara dengan konsep Allah meskipun bekerja sama dengan jin (al-Baqarah ayat 23-24; al-Israa'ayat 88). Dengan kata lain, konsep yang benar adalah konsep yang paling siap menghadapi tantangan. Selain itu, Al-Qurãn juga menegaskan bahwa konsep yang benar itu harus sesuai dengan fitrah (nature) manusia, dan harus mampu menjamin manusia bebas dari ketakutan serta duka-cita.

Wilayah iman
Etika apa pun yang digunakan manusia dalam hidupnya, termasuk 'etika Al-Qurãn', pasti akan mempengaruhi tiga segi kepribadiannya seperti yang disebut dalam uraian terdahulu, yaitu segi kejiwaan (qalbiyah) segi kebahasaan (lisaniyah) dan segi perilaku (fi'liyah). Ketiga segi inilah yang dimaksud 'wilayah' iman.

Dari ketika segi tersebut, segi kejiwaan menempati posisi dasar. Ibarat bangunan, segi kejiwaan adalah fondasinya, yang harus dibangun pertamakali dan harus dibuat sekokoh mungkin, karena di atasnya lah bagian-bagian lain diletakkan. Bila fondasinya rapuh, bangunan tidak bisa ditegakkan.
Namun betapapun pentingnya, fondasi adalah bagian bangunan yang terkubur, tersembunyi di bawah tanah. Yang terlihat dari sebuah bangunan hanyalah bagian-bagian yang terletak di permukaan tanah.

Bila menyebut "bangunan iman" segi kejiwaan adalah bagian yang tak tampak. Yang nampak hanya segi kebahasaan dan perilaku. Bila kedua segi ini tampil baik, maka sudah pasti itu mencerminkan keadaan jiwanya yang baik. Demikian juga sebaliknya. Sehubungan dengan ini lah sebuah Hadits memberikan gambaran demikian:

Man ra'ã min kum munkaran fal- yughayyirhu bi-yadihi. Fa-in lam yastathi' fabvilisãnihi. Fa-in lam yastathi' fabiqalbihi; wa dzãlika adh'aful-îmãni (HR. Muslim).
"Siapa pun di antara kalian (yang mengaku Mukmin) melihat suatu kemunkaran, maka sepantasnya ia turun tangan mengatasinya. Bila ia tak mempunyai kemampuan untuk turun tangan, maka sepantasnya ia menggunakan lidahnya. Bila bicara pun tak mampu, maka sepantasnya ia bereaksi dengan kalbunya. Tapi inilah (pertanda) dari iman yang paling lemah."

Hadits ini mengingatkan bahwa segi kejiwaan yang lemah tidak akan mampu berperan sebagai fondasi bagi tegaknya segi kebahasaan dan perilaku. Karena itulah orang yang berjiwa demikian tidak mempunyai semangat juang. Orang Jakarta bilang "nggak punya nyali." Sebagai akibatnya, kemunkaran pun terus merajalela.
Sebuah Hadits Bukhari memberikan gambaran kebalikan dari gambaran di atas:
Afdhalun-nãsi mu'minun yujãhidu fi sabilillãhi bi- nafsihi wa mãlihi tsumma mu'minun fi sya'bin minasy-syi'ãbi yattaqîllãha wa yada'u-nnãsa min syarrihi.
"Manusia yang terbaik adalah mu'min yang mempertaruhkan diri dan hartanya dalam berjuang di jalan Allah. Selainnya (yang bernilai sama dengannya) adalah mu'min yang tinggal di tempat terpencil karena tekadnya memelihara ajaran Allah membuatnya harus menjauhi masyarakat yang cenderung berbuat buruk."

Kedua Hadits tersebut dengan tegas menekankan bahwa wawasan iman harus mencakup tiga 'wilayah', yaitu kalbu, lisan, dan perilaku. Karena itu kita patut heran bila al-Ghazali mengatakan, "... iman itu hanya percaya dalam hati saja, sedangkan lisan hanya merupakan juru bahasa. Dengan demikian, maka iman itu mesti ada sepenuhnya dalam hati sebelum dinyatakan dengan lisan ... itu pendapat yang jelas kebenarannya, tidak ada alasan selain keharusan mengikuti keterangan Hadits Nabi, bahwa Iman itu percaya dalam hati. Iman itu tidak akan lenyap dari hati, hanya karena tidak diucapkan dengan lisan, walaupun mengucapkannya itu wajib, sama halnya dengan tidak lenyap aIman hanya karena tidak melakukan shalat.[2]
[1] Longman Language Activator.[2] Aqidah-Akhlak jilid 2 untuk Madrasah Aliyah Keas II, departemen Agama RI. Hal. 12.

A Study Of Îmãn (7): Potensi iman
Sebelum ini telah disebutkan bahwa etika dalam bahasa Arab disebut qawã'idul-akhlãq (kaidah-kaidah akhlak), atau dalam pemahaman umum yang populer di Indonesia sama dengan "ilmu akhlak". Berdasar hadits riwayat Muslim yang bersumber dari 'Aisyah, yang menegaskan bahwa Nabi Muhammad berakhlak Al-Qurãn, dapat kita simpulkan bahwa Al-Qurãn adalah salah satu (sumber) etika, alias salah satu sumber ilmu akhlak. Dengan kata lain, Al-Qurãn adalah qawã'idul-akhlãq minallahi (etika – ilmu akhlak – dari Allah). Hal ini menjadi semakin jelas ketika kita hubungan dengan sebuah hadits yang cukup terkenal, yang berisi pengakuan Rasulullah tentang tugas beliau: Innama buitstu li-utamima makarimal-akhlãq (Sesungguhnya aku diutus dalam rangka mengunggulkan akhlak mulia).
Bila Al-Qurãn adalah "ilmu akhlak" (etika) dari Allah, maka otomatis etika-etika yang lain adalah ilmu akhlak yang tidak bersumber dari Allah. Hal ini perlu ditegaskan, terutama sehubungan dengan kajian tentang iman yang kita lakukan (dalam naskah ini) sekarang.

Ilmu sebagai penentu nilai iman
Baik etika yang diajarkan Allah maupun etika-etika yang lain, semua mempunyai nilai dan harga yang mutlak.
Istilah nilai disini bisa diganti dengan sifat atau potensi (kemampuan), atau fitrah untuk mewujudkan sesuatu. Nilai ini mutlak adanya, dan pasti berlaku bila tidak ada hambatan. Kemutlakannya sama seperti api yang mampu membakar setiap benda yang ada di dekatnya.

Surat Al-Ankabut ayat 52 memberikan gambaran demikian:
Tegaskan lah (Muhammad/Mu'min): Cukuplah Allah (dengan ajaranNya) sebagai pembuktian (siapa yang benar dan siapa yang salah) di antara aku dan kalian. Dia (Allah) menata segala yang di langit dan di bumi dengan ilmuNya. (Sepantasnya manusia pun menata hidup dengan ilmu Allah). Maka orang-orang yang beriman dengan ajaran bãthil, yang berarti kafir terhadap ajaran Allah, mereka adalah orang-orang yang rugi (dan merugikan).

Ayat ini mengisyaratkan bahwa nilai etika menentukan nilai iman. Orang-orang yang memilih etika yang bãthil berarti ãmanû bil-bãthil (hidup – beriman – dengan ajaran bãthil), dan hasilnya adalah mereka menjadi orang yang rugi (sendiri) dan merugikan (oran lain).
Secara garis besar dapat dikatakan bahwa etika Allah mempunyai potensi (nilai; kemampuan) mewujudkan fid-dun-ya hasanah wa fil-ãkhirati hasanah, yaitu kehidupan yang "baik" di dunia dan – hingga – di akhirat.

Surat al-Baqarah ayat 25 menggambarkan dengan "bahasa sastra" demikian:
Maka sampaikan kabar gembira bagi orang-orang beriman, yakni mereka yang berperilaku tepat (sesuai ajaran Allah), bahwa mereka layak menikmati 'kebun-kebun' yang di bawahnya mengalir sungai-sungai (irigasi). Setiap muncul buah-buahan sebagai anugerah dari upaya mereka, mereka mengatakan, "Inilah (pembuktian) yang dahulu dianugerahkan kepada kami, yaitu disampaikan (diajarkan sebagai gagasan) kepada kami melalui bahasa perumpamaan (tasybîh)" Di situ mereka hidup bersama para pendamping yang suci, tinggal kekal selama-lamanya.

Sekali lagi perlu ditekankan bahwa bahasa dalam surat Al-Baqarah ayat 25 ini sangat bergaya sastra, dengan salah satu ciri khasnya, yaitu perumpamaan (tasybîh). Pada dasarnya ayat ini berbicara tentang gagasan (wahyu) yang disampaikan (diajarkan) pada satu waktu, dan pembuktian (perwujudan) gagasan itu pada waktu berikutnya di dunia ini, bukan di akhirat sana. Dengan kata lain, ayat ini mengungkapkan tentang janji Allah bagi para mu'min yang istiqamah, yang tahu pasti (yaqîn) nilai (potensi) ajaran Allah, sehingga mereka terus berjuang untuk mewujudkannya menjadi kenyataan.

Satu hal yang perlu diperhatikan, janji Allah itu disampaikan melalui wahyu. Dengan kata lain, dalam konteks ini, isi wahyu Allah itu adalah janji(-janji). Dan di antara janji-janjiNya itu, sebagian disampaikan dalam bentuk bahasa-bahasa perumpamaan (tasybîh), atau ungkapan-ungkapan tidak langsung. Sebagai contoh, dalam ayat ini, penyebutan kata-kata jannãt ­jamak dari jannah (kebun), anhãr – jamak dari nahr (sungai), tsamarãt – jamak dari tsamar (buah), juga rizqan (rejeki; anugerah) adalah perumpamaan (majas) semua; sehingga tidak bisa dipahami dalam pengertian harfiah. Mengapa? Pemahaman harfiah bisa melahirkan terjemahan yang membingungkan, seperti hasil terjemaan Dep-Ag di bawah ini.
25. dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: "Inilah yang pernah diberikan kepada Kami dahulu." mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.

Nilai etika bãthil
Etika bathil pada hakikatnya hanyalah kreasi orang-orang kafir yang melakukan 'pembatalan' atau sabotase atas konsep Allah. Dan kemampuannya hanyalah menimbulkan bencana dalam kehidupann manusia:
Allah dengan tegas memberikan gambaran melalui nyamuk, sampai yang lebih (besar) darinya (yaitu gambaran kehidupan makhluk penghisap darah). Maka orang-orang beriman pasti tahu bahwa ini merupakan ajaran yang benar dari pembimbing mereka. Sedangkan orang-orang kafir malah terus menyoal, "Apa sih maunya Allah dengan perumpamaan ini?" (Maka) banyak lah orang yang sesat karenanya, dan banyak pula yang menjadikannya petunjuk. Tentu saja yang sesat karenanya hanyalah orang-orang yang fasiq.
(Yaitu) mereka yang mencabik-cabik konsep Allah yang telah dibuat layak menjadi ikatan hidup, dengan cara memutus apa yang Allah suruh untuk disambung.[1] Dengan cara itulah mereka menimbulkan bencana di dunia. Mereka lah sumber segala kesialan. (Al-Baqarah ayat 26-27).

Surat An-Nisã' ayat 51 menegaskan bahwa sumber bencana yang mereka ciptakan itu berwujud "kitab".
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana keadaan mereka yang tertimpa nasib sial karena suatu kitab (para kutu buku)? Mereka beriman – hidup – dengan konsep Jibti (dukun, sihir, takhyul) dan Thaghut (berhala, syetan, biang kesesatan), seraya berkoar kepada (sesama) kaum kafir, "Inilah konsep-konsep yang cemerlang dibandingkan dengan konsep kaum mu'min (pengikut Rasulullah)."
Tentu saja kaum Mu'min juga beriman dengan Kitab. Bedanya, kitab yang mereka gunakan adalah kitab(-kitab) karangan manusia, sedangkan yang digunakan mukmin adalah Kitabullah. Kitab-kitab karangan manusia (khususnya hasil karya kaum Kafir serta antek-antek mereka yang mengaku mu'min) jelas bernilai bathil. Akibatnya:
... segala hasil karya kaum Kafir itu tidak ubahnya fatamorgana di gurun pasir. Orang yang kehausan mengira fatamorgana itu air. Kemudian ketika mendatanginya, ia tidak menemukan apa pun (yang dibayangkannya) ...

[1] Mungkin seperti memutus kabel, yang membuat listrik mati, telepon tak berfungsi, kendaraan tak berjalan. Ayat ini menggambarkan orang-orang fasiq golongan manusia yang membuat ajaran Allah tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

(sumber:studiofimanweeblycom)