Ikhlas apakah Anda
sudah melakukan Ikhlas dengan benar? Ikhlas berasal dari kata akhlasha yang
merupakan bentuk kata kerja lampau transitif yang diambil dari kata kerja
intransitif khalasha (خَلصَ) dengan menambahkan satu huruf ‘alif (أ). Bentuk
mudhâri‘ (saat ini) dari akhlasha (اَخْلَصَ) adalah yukhlishu (يُخْلِصُ) dan bentuk
mashdarnya yaitu ikhlash (إِخْلاص). Kata tersebut berarti, murni, bersih, jernih, tanpa campuran.
Ikhlas adalah melakukan amal perbuatan syariat yang ditujukan hanya kepada
Allah secara murni atau tidak mengharapkan imbalan dari orang lain.
Perbuatan
ikhlas dibarengi pula dengan keyakinan atas perbuatannya dan tidak memiliki
keinginan untuk menarik kembali apa yang telah ia lakukan. Amal perbuatan
syariat pun terbagi menjadi 2, yaitu usaha lahiriah dan batiniah (doa). Hingga
jelaslah perbedaan antara ikhlas dan ridho. Kalau ikhlas harus dimulai dengan
amal perbuatan syariat seperti membantu, berusaha, berdoa, dan lainnya
sedangkan ridho adalah rela menerima qodha-qodhar dan meyakini bahwa apa yang
terjadi adalah yang terbaik menurut-Nya. Ikhlas bersifat Aktif dengan melakukan
perbuatan ditujukan kepada Allah, secara lahiriah dan batiniah. Sebuah
perbuatan yang dilakukan secara ikhlas namun perbuatan tersebut tidak menepati
kebenaran, maka amal perbuatan tersebut tidak diterima. Sebaliknya pula bila
menepati kebenaran, namun dilakukan dengan tidak ikhlas maka amal tersebut pun
memiliki kecacatan. Apa yang dimaksud dengan menepati kebenaran adalah dengan
mengikuti Al Qur’an dan sunnah. Ikhlas sebaiknya dilakukan dengan berusaha
secara lahiriah dan batiniah secara bersamaan. Usaha lahiriah adalah berusaha
dengan sungguh-sungguh secara ikhlas, sedangkan usaha batiniah adalah berdoa
dengan sungguh-sunguh secara ikhlas pula. Bila hanya usaha lahiriah atau usaha
batiniah saja yang dilaksanakan, maka terdapat ketimpangan. Lawan dari ikhlas
dalah riya’ yaitu melakukan amal perbuatan dengan tujuan agar dilihat orang dan
mengharapkan pujian atau balasan dari orang lain. Riya’ berasal dari kata ro’a
(رَأى)
yang berarti melihat, atau mengatur sesuatu agar dilihat orang.
Usaha lahiriah: berusaha dengan sungguh-sungguh secara ikhlas
Setelah menempuh tahapan ridho dalam qodha dan qodar-Nya, kita juga harus dapat
memperbaiki diri kita sebaik-baiknya dalam menghadapi cobaan. Bila cobaan
tersebut berupa musibah kematian sanak saudara, maka kita wajib ridho akan
ketetapan Allah, bertakziah kepada keluarga yang sedang dirindung duka dan
membantu semampunya. “Apabila meninggal anak seorang hamba, maka Allah SWT
berkata kepada malaikat: Apakah kamu telah mencabut roh putra hambaKu.
Jawabnya: Ya. Apakah kamu telah mengambil buah hatinya ? Jawabnya: Ya, benar.
Maka Allah berkata: “Lalu apa yang diucapkan oleh hambaKu?. Malaikat berkata: “Dia
memuji-Mu dan mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Maka Allah SWT
berkata: “Bangunkan untuk hambaKu tersebut sebuah rumah di surga dan beri nama
tempat itu Baitul Hamdi”. (H.R. Turmudzi, dia berkata: Hadis Hasan) Bila cobaan
tersebut adalah kemaksiatan yang berada di diri kita, maka harus berusaha untuk
memperbaikinya menuju aturan syariat yang lurus. Bila cobaan tersebut adalah
menurunnya hasil usaha kita, maka cobalah lebih pintar mencari penyebabnya
kemudian mencoba mengatasi masalah tersebut. Bila cobaan tersebut berupa
musibah kehilangan pekerjaan, maka kita harus tetap berusaha dengan jalan
apapun asalkan halal. Bila telah mendaftar pekerjaan tapi tidak diterima, kita
masih bisa berwiraswasta dengan atau berjualan. Bila tidak ada modal untuk
memulai usaha, maka mulailah usaha dengan modal yang paling kecil. Sebenarnya
hal yang merintangi kita dalam usaha bukanlah modal, tapi kemauan dan gengsi
dari dalam diri kita sendiri. Hal itulah yang harus kita perangi. Sesungguhnya
kemenangan bukan terletak pada hasil materi yang berhasil kita peroleh, namun
kemenangan adalah bila kita dapat mengalahkan diri kita, memasung iblis di
dalam hati, dan berjuang atau berusaha secara lahir dan batin. Usaha batiniah:
berdoa dengan sungguh-sungguh secara ikhlas Atau siapakah yang memperkenankan
(doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang
menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di
bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu
mengingati (Nya). (Q.S.27/ An Naml:62) “Do'a adalah otaknya (sumsum/inti nya)
ibadah.(HR. Tirmidzi)” “Do'a adalah senjata seorang mukmin dan tiang (pilar)
agama serta cahaya langit dan bumi. (HR. Abu Ya'la)” Setelah berusaha
sebaik-baiknya, maka hal tersebut akan sia-sia bila kita tidak berdoa dengan
sungguh-sungguh. Janganlah kita takabur dengan mengatakan bahwa kita layak
mendapatkan sesuatu atas jerih payah kita sendiri. Karena yang menentukan
semuanya adalah Allah Azza wa Jalla. “Rasulullah saw. berkata: Wahai Abdullah
bin Qais! Maukah kamu aku tunjukkan kepada salah-satu kekayaan surga yang
tersimpan? Aku menjawab: Tentu, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Yaitu
ucapan: ‘laa haula wa laa quwata illa billah’ (Tidak ada daya dan kekuatan
kecuali berkat bantuan Allah). (Shahih Muslim No.4873)” Bagaimanapun gigihnya
usaha kita hingga akhirnya mencapai keberhasilan, semata-mata berkat Allah SWT.
Dan Allah berhak menambah, menetapkan, bahkan mengurangi rezeki kita di dunia
semata-mata untuk kebaikan diri kita sendiri. Ilmu Allah tak terbatas dibanding
logika sempit manusia, yang mengatakan bahwa semakin “banyak rezeki akan
semakin baik”, karena bisa saja dibalik rezeki yang berlimpah di dunia justru
akan menghambat jalan kita di akhirat kita kelak. Berdoa yang utama dilakukan
adalah berdoa setelah shalat wajib maupun shalat sunnah. Kemudian doa pada
waktu-waktu tertentu. “Rasulullah SAW ditanya, "Pada waktu apa do'a
(manusia) lebih didengar (oleh Allah)?" Lalu Rasulullah SAW menjawab,
"Pada tengah malam dan pada akhir tiap shalat fardhu (sebelum
salam)." (Mashabih Assunnah)”
No comments:
Post a Comment